PELALAWAN, Riaueksis.com – Upaya menyiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi di bidang perkebunan kelapa sawit dilakukan melalui Program Sekolah Sawit Lestari yang dibina Asian Agri melalui PT Inti Indosawit Subur.
Program ini menjadi wadah bagi siswa untuk mengenal sekaligus mendalami pengelolaan perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan. Salah satunya dilaksanakan bersama SMKN 1 Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau.
Melalui Jurusan Agribisnis Tanaman Perkebunan, para siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran teori di ruang kelas, tetapi juga pengalaman langsung mengelola kebun sawit. Mulai dari membersihkan lahan, penanaman, pemupukan, pengendalian hama hingga proses panen.
Penanggung Jawab Jurusan Perkebunan SMKN 1 Pangkalan Kerinci, Tuti Asmiati, mengatakan Program Sekolah Sawit Lestari telah berjalan sejak adanya kerja sama melalui MoU pada 2017.
Penanaman perdana dilakukan pada September 2017. Empat tahun kemudian, tepatnya 17 Juli 2021, kebun tersebut memasuki masa panen perdana yang saat itu dilakukan oleh Gubernur Riau.
Menurut Tuti, lahan praktik tersebut memiliki luas sekitar setengah hektare dan merupakan lahan milik desa yang sebelumnya kosong serta terlantar. Lahan kemudian dibuka dan dibersihkan sebelum ditanami kelapa sawit oleh para siswa.
"Untuk praktik lapangan ada lahan desa luasnya kurang lebih setengah hektare. Anak-anak mulai dari tahap awal membersihkan lahan, menanam, melakukan pemupukan sampai panen buah sawit," kata Tuti.
Dalam pelaksanaannya, Asian Agri memberikan dukungan berupa bibit, pupuk, tenaga ahli serta pendampingan teknis kepada sekolah.
Setelah kebun mulai menghasilkan, dukungan perusahaan lebih difokuskan pada tenaga ahli yang membantu sekolah dalam pemeliharaan kebun serta memberikan pemahaman mengenai teknik panen yang benar.
"Anak-anak mendapatkan ilmu langsung dari para ahli perkebunan kelapa sawit. Jadi mereka tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga praktik langsung di kebun," ujar Tuti.
Menariknya, kebun sawit sekolah tersebut kini juga memberikan pemasukan. Hasil penjualan sawit setelah dikurangi biaya dan upah panen kemudian dibagi dua dengan Masjid Al Ikhlas Desa Makmur, Kecamatan Pangkalan Kerinci, yang berada tidak jauh dari lokasi kebun.
Kepala SMKN 1 Pangkalan Kerinci, Nasril, S.Pd., M.Pd., mengatakan minat generasi muda terhadap bidang perkebunan kelapa sawit cukup besar.
Saat ini, sekolah menyiapkan satu kelas dengan sekitar 36 siswa pada setiap jenjang.
"Peminat sebenarnya cukup banyak. Tapi kita seleksi untuk siswa yang benar-benar mempunyai minat untuk menjadi ahli sawit," kata Nasril.
Ia menambahkan, sebagian besar lulusan memilih bekerja setelah menyelesaikan pendidikan. Namun, ada pula yang memilih melanjutkan kuliah dan berharap mendapatkan dukungan beasiswa dari perusahaan.
Salah seorang siswi yang sedang menjalani magang di Asian Agri, Fanisavira, mengaku tertarik mendalami bidang perkebunan karena ingin membantu mengelola kebun milik orang tuanya.
"Saya ingin membantu orang tua mengurus kebun, tapi saya juga ingin kuliah ke perguruan tinggi," ungkap Fani.
Sementara itu, Koordinator CSR Asian Agri Wilayah Riau, Aris Yuneidi, mengatakan Program CSR Sekolah Sawit Lestari saat ini telah diterapkan di enam sekolah yang tersebar di Riau, Jambi dan Sumatera Utara.
Selain itu, Asian Agri juga menjalankan Program CSR Desa Sawit Mandiri di empat desa yang tersebar di Riau dan Jambi.
"Melalui program ini, sekolah tidak hanya mencetak lulusan yang siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mengenalkan praktik perkebunan sawit berkelanjutan sejak bangku pendidikan," ujar Aris.
Menurutnya, program tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang tangguh, memiliki kompetensi di bidang perkebunan serta mampu ikut mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar perkebunan.
Keberlanjutan program tersebut juga mendapat dukungan dari Koordinator Plasma PT Inti Indosawit Subur Kebun Buatan, Slamet Prayogi.
Melalui Program Sekolah Sawit Lestari, dunia pendidikan dan industri dipertemukan untuk memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Dari kebun praktik di sekolah, para siswa dipersiapkan menjadi sumber daya manusia muda yang memahami pengelolaan sawit sekaligus pentingnya prinsip keberlanjutan.
Program ini diharapkan tidak hanya mencetak lulusan yang siap memasuki dunia kerja, tetapi juga melahirkan generasi muda yang mampu menjadi bagian dari masa depan industri sawit berkelanjutan dan ikut memberikan manfaat bagi masyarakat. (Len)

Dari Kebun Sekolah, Asian Agri Siapkan Generasi Muda untuk Sawit Berkelanjutan
PELALAWAN, Riaueksis.com – Sejumlah siswa SMKN 1 Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, tak hanya mempelajari teori perkebunan di ruang kelas. Mereka juga turun langsung ke kebun untuk belajar mengelola tanaman kelapa sawit dari awal hingga menghasilkan.
Pembelajaran praktik tersebut menjadi bagian dari Program Sekolah Sawit Lestari yang dibina Asian Agri melalui PT Inti Indosawit Subur. Program ini dirancang untuk mengenalkan dunia perkebunan sawit sekaligus membekali siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan di lapangan.
Di SMKN 1 Pangkalan Kerinci, program tersebut dijalankan melalui Jurusan Agribisnis Tanaman Perkebunan. Para siswa mendapat kesempatan mengelola lahan praktik mulai dari membersihkan lahan, menanam bibit, melakukan pemupukan, mengendalikan hama hingga memanen buah sawit.
Penanggung Jawab Jurusan Perkebunan SMKN 1 Pangkalan Kerinci, Tuti Asmiati, mengatakan kerja sama sekolah dengan Asian Agri telah berlangsung sejak 2017 melalui penandatanganan MoU.
Penanaman perdana dilakukan pada September 2017. Sedangkan panen perdana berlangsung pada 17 Juli 2021 dan saat itu dilakukan oleh Gubernur Riau.
"Lahan untuk praktik lapangan merupakan lahan desa, luasnya kurang lebih setengah hektare. Anak-anak mulai dari tahap awal membersihkan lahan, menanam, melakukan pemupukan sampai panen buah sawit," kata Tuti.
Menurut Tuti, lahan tersebut sebelumnya merupakan lahan kosong yang terlantar. Melalui program tersebut, lahan kemudian dibuka dan dimanfaatkan sebagai kebun praktik bagi para siswa.
Dalam pembinaan, Asian Agri memberikan dukungan berupa bibit, pupuk, tenaga ahli serta pendampingan teknis. Setelah kebun mulai menghasilkan, pendampingan lebih diarahkan pada pemeliharaan tanaman dan teknik panen yang tepat.
"Anak-anak mendapatkan ilmu langsung dari para ahli perkebunan kelapa sawit. Jadi mereka tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga praktik langsung di kebun," ujarnya.
Kebun sekolah itu kini tidak hanya menjadi tempat belajar. Hasil panen juga telah memberikan pemasukan bagi sekolah.
Setelah hasil penjualan dikurangi biaya dan upah panen, pendapatan kebun tersebut dibagi dua dengan Masjid Al Ikhlas Desa Makmur, Kecamatan Pangkalan Kerinci, yang lokasinya tidak jauh dari kebun.
Kepala SMKN 1 Pangkalan Kerinci, Nasril, S.Pd., M.Pd., mengatakan bidang perkebunan masih cukup diminati generasi muda.
Sekolah saat ini menyiapkan satu kelas dengan sekitar 36 siswa pada setiap jenjang. Namun, siswa yang masuk jurusan tersebut tetap diseleksi berdasarkan minatnya terhadap bidang perkebunan.
"Peminat sebenarnya cukup banyak. Tapi kita seleksi untuk siswa yang benar-benar mempunyai minat untuk menjadi ahli sawit," kata Nasril.
Ia menyebutkan, sebagian besar lulusan memilih bekerja di perusahaan setelah menyelesaikan pendidikan. Sebagian lainnya memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan berharap mendapatkan dukungan beasiswa dari perusahaan.
Salah seorang siswi yang sedang menjalani magang di Asian Agri, Fanisavira, mengaku tertarik mendalami bidang perkebunan karena ingin membantu mengelola kebun milik orang tuanya.
"Saya ingin membantu orang tua mengurus kebun, tapi saya juga ingin kuliah ke perguruan tinggi," ungkap Fani.
Sementara itu, Koordinator CSR Asian Agri Wilayah Riau, Aris Yuneidi, mengatakan Program CSR Sekolah Sawit Lestari saat ini telah diterapkan di enam sekolah yang tersebar di Riau, Jambi dan Sumatera Utara.
Selain Sekolah Sawit Lestari, Asian Agri juga menjalankan Program CSR Desa Sawit Mandiri di empat desa yang tersebar di Riau dan Jambi.
"Melalui program ini, sekolah tidak hanya mencetak lulusan yang siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mengenalkan praktik perkebunan sawit berkelanjutan sejak bangku pendidikan," kata Aris.
Menurutnya, program tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang memiliki kompetensi di bidang perkebunan, tangguh dan mampu ikut mendorong kesejahteraan masyarakat di sekitar perkebunan.
Keberlanjutan program tersebut juga melibatkan Koordinator Plasma PT Inti Indosawit Subur Kebun Buatan, Slamet Prayogi.
Melalui kebun praktik dan pendampingan langsung, para siswa diharapkan memiliki gambaran nyata tentang pengelolaan perkebunan sawit. Bekal tersebut menjadi modal bagi mereka, baik untuk memasuki dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan di bidang perkebunan.
Program Sekolah Sawit Lestari pun menjadi salah satu upaya mempertemukan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri, sekaligus mengenalkan prinsip pengelolaan sawit berkelanjutan kepada generasi muda sejak bangku sekolah. (len)