Doa, Air Mata, dan Harapan: Bupati Afni Dampingi Siswa SMP Islamic Center Siak Pulihkan Trauma Minggu, 12/04/2026 | 15:05
SIAK,Riaueksis.com- – Suasana haru menyelimuti SMP Sains Tahfizh Islamic Center Siak saat Bupati Siak, Afni Zulkifli, hadir dalam doa bersama dan pembacaan Yasin, Jumat (10/4/2026).
SIAK,Riaueksis.com- – Suasana haru menyelimuti SMP Sains Tahfizh Islamic Center Siak saat Bupati Siak, Afni Zulkifli, hadir dalam doa bersama dan pembacaan Yasin, Jumat (10/4/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal pemulihan psikologis para siswa pasca insiden praktikum yang merenggut nyawa seorang pelajar.
Dengan wajah penuh empati, Bupati Afni menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Muhammad Aqil Alrizal. Ia mengajak seluruh elemen pendidikan di Kabupaten Siak menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran penting. “Ini bukan hanya duka keluarga, tapi duka kita semua. Mari kita doakan almarhum Aqil dan jadikan ini pengingat agar dunia pendidikan semakin aman,” ujarnya. Sebagai bentuk refleksi bersama, Pemkab Siak menginstruksikan doa dan pembacaan Yasin digelar serentak di seluruh sekolah. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat solidaritas sekaligus menjadi ruang kontemplasi bagi siswa dan tenaga pendidik.
Tak hanya itu, Bupati Afni juga menekankan pentingnya memberikan ruang duka bagi keluarga korban serta menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak berwenang. Ia mengingatkan para guru agar meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas siswa, terutama dalam kegiatan praktikum. “Anak-anak boleh kreatif dan berinovasi, tapi harus dalam pengawasan penuh. Keselamatan adalah yang utama,” tegasnya.
Upaya pemulihan pun tidak berhenti pada doa. Pemerintah Kabupaten Siak melalui dinas terkait telah menyiapkan pendampingan psikologis bagi siswa dan guru guna mengatasi trauma yang muncul pascakejadian.
Sementara itu, Kapolres Siak, Sepuh Ade Irsyam Siregar, memastikan pihaknya tidak hanya fokus pada proses hukum, tetapi juga pada pemulihan mental para siswa. “Kami ingin anak-anak tetap merasa aman dan terlindungi. Trauma healing kami lakukan secara humanis bersama Polwan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap penggunaan bahan berbahaya di lingkungan sekolah, serta mengajak siswa untuk lebih bijak dalam menyikapi pengaruh negatif, baik dari lingkungan maupun media digital. Doa yang dipanjatkan bersama siang itu menjadi simbol kebersamaan—antara pemerintah, aparat, guru, dan siswa—untuk bangkit dari duka. Di tengah kesedihan, harapan perlahan tumbuh: bahwa luka ini akan sembuh, dan dunia pendidikan akan menjadi lebih aman ke depannya.***