Senin, 25/11/2019
 
Karena Rasisme Meningkat Pasca Brexit, Unjuk Rasa Pun Digelar di Hampir Seluruh Wilayah Inggris

ad | Internasional
Senin, 20/03/2017 - 02:13:53 WIB
London (RiauEksis.Com) - Unjuk rasa terjadi di hampir seluruh wilayah di Inggris. Ribuan pengunjuk rasa menyuarakan kemarahan mereka dengan meningkatnya sentimen anti imigrasi di Inggris pasca Brexit.

Aksi unjuk rasa banyak digelar setelah negara Inggris meninggalkan Uni Eropa atau dikenal dengan istilah British Exit (Brexit) pada Juni 2016 lalu. Hal ini disebut karena peningkatan kasus rasisme yang banyak dirasakan orang-orang di sana.

Ribuan aktivis antirasisme menggelar aksi unjuk rasa terbaru di pusat ibu kota London pada Sabtu (18/3/17) kemarin.

Mereka mengatakan, serangan terhadap warga asing di Inggris banyak terjadi setelah Brexit. Kemudian demonstrasi serupa juga dilakukan di dua negara bagian lainnya yaitu Skotlandia dan Welsh. Di sana, para pengunjuk rasa sekaligus memperingati hari internasional PBB untuk mendukung Penghapusan Diskriminasi Rasial.

Aktivis juga memprotes langkah Pemerintah Inggris yang menolak menjamin hak tinggal warga dari negara-negara Uni Eropa. Kebijakan itu akan diterapkan hingga mereka menerima jaminan timbal balik dari Uni Eropa untuk warga Inggris yang berada di wilayah negara organisasi supranasional tersebut.

Sentimen Uni Eropa berdampak buruk terhadap warga mereka yang menetap di Britania Raya. Despina Karayianni, seorang warga Yunani yang tinggal di London mengatakan bahwa Pemerintah Inggris seolah-olah mengancam Uni Eropa.

Setelah Brexit, ia merasa tidak dapat menjalani kehidupan seperti biasanya. Demikian dengan banyak orang lainnya yang sebenarnya berada di Inggris untuk mencari kehidupan lebih baik.

"Tampaknya Perdana Menteri Inggris Theresa May ingin menakuti warga Uni Eropa yang ada di negaranya untuk tinggal, bekerja, maupun belajar di sini," ujar Karayianni, dilansir Aljazeera, Ahad (19/3/17).

Ia juga menekankan bahwa cara itu tidak akan berhasil membuat mereka pergi dari Inggris. Serangan rasisme juga menyasar warga minoritas dan imigran dari negara-negara Uni Eropa.

Kejahatan kebencian pada 2016 lalu tercatat meningkat hingga 14.295 insiden. Jumlah ini bertambah cukup siginfikan dibandingkan 2015 lalu dengan jumlah 10.793 kasus.

Aktivis Inggris, Tom Corbin, mengatakan, Brexit menjadi alasan sejumlah orang yang memiliki pandangan rasis terhadap imigran melakukan serangan. Mereka yang selama ini hanya diam, kini berani untuk berbicara dan membenarkan sikap kebencian itu.

"Brexit memberi alasan mereka yang berpandangan rasis terhadap imigran  dan ini adalah tanggung jawab politisi kelas atas Inggris atas xenophobia yang semakin meningkat," kata Corbin.

May akan mengumumkan secara resmi keputusan Inggris meninggalkan Uni Eropa pada akhir bulan ini. Ia menerapkan pasal 50 Perjanjian Lisbon untuk menguatkan hasil referendum Brexit. (re)






comments powered by Disqus


Berita Lainnya :
 
  • Hardianto Dukung Gubri Syamsuar evaluasi BUMD
  • Danramil 05/Rupat Bersama Tim Gabungan Kembali Berjibaku Lawan Karlahut di Pulau Rupat
  • Presiden Tinjau Posko Penanganan Karhutla Riau
  • Akpasindo Kunjungi Kelompok Tani Desa Talang Mandau
  • Turki berin300 bea siswa untuk mahasiswa Indonesia.
  • Aset Tersangka kasus Jiwasraya Ditaksir Capai Rp11 Triliun
  • Dewan Pers Berikan UKW Gratis untuk 480 wartawan
  • 29 Februari, PWI akan Gelar Porwada Catur.
  • Kasdim 0303/Bengkalis Hadiri Ijab Qobul Anak Plt Bupati Bengkalis 
  •  
     
     
     
     
    Copyright © 2014-2016
    PT. Surya Cahaya Indonesia,
    All Rights Reserved