Senin, 10 Desember 2018
 
Inilah Masjid Agung di Tiongkok Yang Berjasa Besar Terhadap Berdirinya Negara RRC

am | Internasional
Sabtu, 03/09/2016 - 07:33:26 WIB
Tiongkok (RiauEksis.Com) - Masjid Agung Tongxin menjadi saksi sejarah berdirinya Republik Rakyat Cina (RRC). Pada Oktober 1934 hingga 1935, Muslim Hui melakukan kontak pertama dengan kelompok revolusi Partai Komunis Tiongkok dalam upaya penggulingan kaisar terakhir Cina Dinasti Qing.

Muslim Hui di Tongxin pada saat itu memiliki hubungan penting dengan pasukan merah Komunis Tiongkok dalam gerakan revolusi. Pada saat 1936, wilayah Yuwang Bao yang kini berada di wilayah Tongxin merupakan lokasi markas Front Pasukan Merah Pertama.

Setelah terjadi pengepungan oleh pasukan nasionalis yang mendukung gerakan Kuomintang Sun Yat-Sen. Pasukan Merah kemudian berlindung di beberapa bangunan di wilayah Tongxin, termasuk di antaranya, Masjid Agung Tongxin. Perlindungan yang diberikan Muslim Hui ini menjadi jasa besar bagi Partai Komunis Tiongkok.

Pada Oktober 1936, sebuah pertemuan publik diadakan di Masjid Agung Tongxin dan disepakati oleh pemerintahan komunis pertama. Daerah Ningxia dan Tongxin pun menjadi daerah otonom pertama pada era Komunis Tiongkok. Walaupun daerah otonomi tersebut tidak berumur panjang, ini telah berhasil melindungi bangunan Masjid Agung Tongxin dari kehancuran selama Revolusi Kebudayaan oleh Partai Komunis Tiongkok.

*Keistimewaan Masjid Agung Tongxin*

Jauh sebelum Islam menyebar di Nusantara, kekaisaran Cina telah menerima Islam menjadi salah satu kepercayaan penduduknya.

Islam pun telah diakui menjadi keyakinan masyarakat Cina pada era Dinasti Ming (1368-1644 Masehi). Salah satu bukti bahwa peninggalan Islam tersebut, Masjid Agung Tongxin yang berada di Daerah Otonomi Suku Hui di Ningxia.
Hasil gambar untuk struktur bangunan masjid agung tongxin

Masjid Agung Tongxin ini merupakan satu di antara banyak masjid peninggalan Islam di tanah Cina. Masjid yang dibangun pada 1573 pada masa pemerintahan Kaisar Wanli Ming (1563-1620) dan dibangun kembali sekitar 50 tahun kemudian di bawah Dinasti Qing.

Masjid ini menjadi kebanggaan etnis Muslim Hui hingga sekarang. Saat ini, Masjid Tongxin pun menjadi salah satu masjid terbesar di wilayah yang saat ini disebut Otonomi Hui Ningxia. Masjid Agung Tongxin dinilai istimewa karena menyimpan perjalanan panjang perbauran Islam di dataran Cina.

Profesor Ibrahim Wenjiong Yang dari Lanzhou University mengatakan, masjid ini merupakan bagian penting dari identitas Muslim Hui di Ningxia.

Masjid ini juga menorehkan sejarah perjuangan Muslim Hui semasa Revolusi Kebudayaan. Dari sisi arsitektur, masjid ini menggabungkan unsur tradisional etnis Han-etnis mayoritas Tiongkok ke dalam arsitektur Hui Islam.

Gaya masjid ini serupa dengan model bangunan-bangunan awal di Tiongkok wilayah pesisir, lengkap dengan gaya struktur kayu tradisional yang dipadukan dengan penggunaan bata bata lengkap dengan ukiran seni Arab.

Kompleks Masjid Agung Tongxin dibagi menjadi halaman dalam dan luar. Secara keseluruhan, bangunan masjid terbagi menjadi lima ruangan yang cukup luas, beberapa ruangan dibangun dengan gaya konstruksi paviliun dengan ruang pelayanan di bagian depan.

Bangunan utama masjid adalah ruang shalat dan dapat menampung sekitar 800 hingga 1.000 jamaah secara keseluruhan. Masjid ini berdiri di atas tanah seluas 3.432 meter persegi dengan ketinggian fondasi 23 meter.

Struktur bangunan mengarah ke sepanjang sumbu dari timur ke barat yang mengarah ke pintu gerbang. Di bagian depan, terdapat gerbang utama yang berukuran lebar 10 meter dan tinggi 20 meter.

Atap gerbang utama ini seperti layaknya bangunan atap khas Tiongkok. Selain itu, gerbang ini memiliki tampilan ubin berukir bertuliskan Arab dan aksara Cina bertuliskan "Masjid Jami Tongxin".

Di samping kanan ubin bertuliskan Arab "La Ilaha Illa Allah" dan sebelah kiri bertuliskan Arab "Muhammad Rasulullah". Memasuki halaman masjid, terdapat sebuah tembok prasasti dengan tulisan yang sama, namun terdapat motif kaligrafi bundar khas etnis Hui.

Masjid Agung Tongxin memiliki halaman yang cukup luas. Halaman masjid yang cukup luas ini ternyata memiliki sejarah panjang perjuangan etnis Hui dan gerakan komunis Tiongkok pada 1936.

Selama Revolusi Kebudayaan, bangunan masjid dilindungi oleh Muslim Hui atas kesepakatan bersama kelompok Komunis sebagai situs sejarah perjalanan revolusioner.

Dengan demikian, Masjid Agung Tongxin beserta arsitektur dan dekorasi uniknya ini menjadi satu-satunya bangunan besar Islam di Ningxia yang selamat dari kehancuran selama Revolusi Kebudayaan.

*Bagian Dalam Masjid Agung Tongxin*

Di ruang shalat utama Masjid Agung Tongxin terdapat tiga bagian yakni serambi bertiang, aula tengah, dan bagian kiblat.
Seluruh kompleks bangunan di masjid ini tersusun dari batu bata. Beberapa bagian di sekitar kompleks masjid pun bila dilihat dari luar bangunan, seperti tembok tinggi dengan beberapa lengkungan pintu.
Bagian dalam Masjid Agung Tongxin

Model atap masjid ini seluruhnya menggunakan gaya atap lengkung khas Tiongkok. Tiap struktur atap memiliki jenis Dougong atau struktur elemen kayu khas Tiongkok dengan tingkatan kurung yang cukup rumit dan saling terkait. Atap lengkung yang digunakan pada kurung Dougong dimahkotai dengan motif bunga dengan kepala naga pada ujung atap.

Terpisah dari atap bangunan utama, terdapat Bangke Tower. Bangunan ini merupakan menara unik beratap tingkat dua mirip dengan sebuah biara Buddha dan model atap khas bangunan ibadah di dataran Tiongkok. Bangunan ini sebagai pengganti menara masjid yang lazim dijumpai di model masjid pada umumnya.

Walaupun bangunan ini kental dengan bangunan Tiongkok, pada pada pucuk atap setiap bangunan Masjid Tongxin memiliki simbol bulan sabit yang menandakan bahwa bangunan ini adalah sebuah masjid.

Pada seluruh ruang shalat, setidaknya terdapat 20 kolom penopang atap bangunan masjid. Memasuki ruang serambi masjid, terdapat empat kolom di mana pada setiap antarkolom dilengkapi dengan lambrequins atau dekorasi kisi-kisi pahatan kayu motif bunga khas Hui yang menggantung di antaranya.

Serambi ruang shalat terbuka ke sebuah halaman mengarah di sebelah timur, diapit oleh ruang untuk pembelajaran agama di utara dan selatan. Ruangan ini merupakan bagian lain yang masih bertahan sejak Dinasti Ming dan menjadi karakter khas tipologi masjid setempat.

Pada ruang shalat utama akan dijumpai berbagai interior yang cukup kaya dengan identitas Hui. Kolom yang terdapat pada ruang shalat dipenuhi tulisan ayat Alquran bertuliskan aksara Tiongkok. Pada langit-langit interior penuh dengan ukiran lambrequins.

Dinding lengkung ruang imam shalat dihiasi dengan karya-karya ukir kaligrafi yang diambil dari Alquran. Dekorasi lain, seperti mimbar dan mihrab, penunjuk waktu shalat dalam bahasa Arab dan Cina, karpet luas bermotif bunga sebagai sajadah, dan papan berukir dengan kaligrafi Arab. (re/rci)



comments powered by Disqus


Berita Lainnya :
 
  • Curhatan Mahasiswa S3 Polisikan Dosen Karena Dilempar Disertasi
  • Jadwal Lengkap Presiden RI Ke-6 Di Riau
  • Terduga Teroris Aksi Teror Natal Dan Tahun Baru Ditangkap Polisi
  • Kosmetik Ilegal Akan Diedarkan Ke Kota Besar Di Indonesia Tapi Dihentikan BPOM
  • Terseret Arus Sungai Kampar, Korban Ditemukan Kondisi Meninggal Dunia
  • Evalasi Waduk PLTA Koto Panjang Mengalami Penurunan
  • Terbongkarnya Bilik Cinta Di Lapas Sukamiskin
  • Kukang Jantan Berusia Setahun Sempat Terjebak Banjir
  • Kronologis Basarnas Tangkap Ular Saat Evakuasi Korban Banjir
  •  
     
     
     
     
    Copyright © 2014-2016
    PT. Surya Cahaya Indonesia,
    All Rights Reserved