Selasa, 20 November 2018
 
Sulitnya Identifikasi Jasad Korban Lion Air Melalui Gigi

Putra | Nasional
Rabu, 07/11/2018 - 16:41:46 WIB
RiauEksis.com - Kepala Laboratorium dan Klinik Odontologi Pusdokkes Polri, Kombes Agustinus menjelaskan bagaimana proses identifikasi jenazah korbal Lion Air PK-LQP. Dia menjelaskan mulai dari membutuhkan rekam medis gigi korban hingga foto selfie korban yang memperlihatkan gigi korban adalah salah satu yang membantu dalam proses identifikasi.

Awalnya, Agustinus menjelaskan bagaimana awal mula kedatangan jenazah korban Lion Air tiba di ruang jenazah, kemudian jenazah dicek terlebih dahulu bagaimana kondisi body part yang ditemukan.

Dia juga menjelaskan proses pengecekkan itu dilakukan oleh beberapa petugas yang ditugaskan secara shifting, lalu para petugas tersebut mencatat bagian body part yang datang untuk kemudian dilakukan proses pengecekkan berlanjut.

Agus mengatakan para petugas odontologi forensik akan memisahkan mana body part yang akan dikirim ke pemeriksaan odontologi, bagian tersebut seperti rahang, gigi, dan mulut. Nantinya akan ada proses pencatatan dengan kode-kode untuk medeskripsikan kondisi body part tersebut.

"Mereka yang bekerja di instalasi forensik, yang mencatat body part terkait gigi berikut rahangnya. Semua dicatat baik bentuknya, warnanya, segala intervensi yang terjadi di gigi itu, apakah di giginya ada tambalan, tambalan juga ada beberapa jenis, ada yang putih, dan logam, ada gigi yang dicabut, dibehel juga, segala macam terjadi di gigi itu, termasuk kondisi rahangnya, juga relasi antara gigi atas dan bawah, semua dicatat secara detil, untuk nantinya disandingkan ke data ante mortem, teknis di ante mortem adalah screaning awal, dengan menanyakan ke keluarga semua sidik jari, DNA dan khusus gigi diperdalam lagi oleh tim di antemortem," jelas Agus di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (7/11/2018).

Selain mencatat kondisi tersebut, agus mengatakan pihaknya juga membutuhkan rekam medis gigi korban, nantinya pihak Odontologi Forensik akan menghubungi keluarga-keluarga korban yang mengetahui rekam medis korban, apakah pernah melakukan pemeriksaan gigi dan sebagainya. Jika korban memiliki rekam medis di salah satu dokter gigi, pihak rumah sakit juga akan menghubungi dokter tersebut untuk meminta data dental recorder.

"Tanya ke keluarga apakah dia pernah lakukan perawatan gigi ke dokter gigi, bila ada jawaban pernah, kita akan telusuri dokter gigi itu untuk petugas kami konfirmasi langsung pada dokter gigi yang merawat, dan meminta untuk keperluan DVI, dan persetujuan kekuarga untuk dapatkan catatan rekam medis gigi itu," ungkapnya.

Setelah melakukan pencarian rekam medis gigi korban, pihak odontologi akan membuat laporan ke dalam suatu lembaran kertas yang berbentuk formulir, Agus menjelaskan ada dua formulir yang harus diisi oleh tim medis, formulir itu ada untuk ante mortem yang berwarna kuning, sedangkan post mortem berwarna pink. Dalam laporan tersebut menuliskan beberapa kode gigi korban tersebut.

"Lembar ini selasai dari operasi DVI ini akan dikirimkan ke Interpol, sebagai laporan dan pertanggung jawaban kami. Tujuan mentransfer ke kode dan simbol tertentu untuk memudahkan secara visual, sehingga tak terlalu lama. Kalau ada simbol kan lebih mudah, sehingga mudah dilakukan proses matching, begitu juga yang di post mortem, dipindahkan ke formulir. Semua akan ditransfer catatan giginya," ucap Agus.

Terkait kasus Lion Air JT 610, dari 189 data ante mortem yang berhasil di dapat, hanya ada 70 korban yang memiliki dental record. Dalam kasus ini, Agus juga mengatakan pihaknya mengalami kesulitan untuk mendeteksi beberapa body part karena tidak memiliki dental record itu, sebagai gantinya dia menjelaskan beberapa keluarga diminta untuk menyertakan foto selfie korban yang giginya terlihat.

"Dari sekian banyak data ante mortem 189, yang berhasil kami dapatkan dental recordnya ada 70, jadi ada sekitar 30 persen, lainnya hampir tak pernah lakukan perawatan gigi, sehingga kami kesulitan dapatkan dental recordnya, dan yang kami bisa lakukan terkait itu, mengirimkan foto yang tampak gambaran giginya, seperti saat senyum. Itu cukup membantu meskipun nilai identifikasinya sekunder, atau mendukung paling bawah levelnya dibandingkan dental record," katanya.

"Salah satu kesulitan identifikasi adalah keutuhan dari pada bodypart, jadi mohon maaf identifikasi gigi kami belum mampu menemukan, tapi bukan kami nggak bantu, dari temuan itu juga kita bantu untuk identifikasi usia, dari dagu dan sudut rahang," sambungnya.

Agus juga mengungkapkan sudah ada dua body part yang menyangkut dengan gigi, namun gigi tersebut tidak bisa diidentifikasi karena bentukannya sudah pecah hanya ada separuh itu dia sebut sulit diidentifikasi.

"Sampai sekarang yang terkait aspek gigi baru dua, pertama dulu temuan gigi itu juga fraktur atau pecah dan tak bisa diidentifikasi, baik gender dan umurnya. Kedua, ada body part rahang atas bawah separuh, itu yang kemarin seharian kita dalami, tapi kami hanya bisa pada simpulan gender dan perkiraan umur, belum menunjuk individu karena keterbatasan data post mortem dan ante mortem itu sendiri," pungkasnya.****(ptr)


comments powered by Disqus


Berita Lainnya :
 
  • Wow, Arsene Wenger Pernah Didekati Real Madrid Dan Bayern Munchen, Kapan?
  • BBKSDA Riau Peringatkan Warga Hati-hati Gajah Liar
  • Diduga Catut Nama Kapolda Riau, Akiong Ditangkap
  • Acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Monas
  • Program Agrotek Farm System Berhasil Dikembangkan Kelompok Masyarakat Rumbai
  • Tanggapan Kepala DPMD Terkait Kasus Pungli Sekdes Gunung Sari
  • Sekdes Gunung Sari Ditetapkan Jadi Tersangka Kasus Pungli
  • Hasil Seleksi Administrasi Calon Komisioner KPU Kampar
  • Truk Tanki Vs Innova Di Lintas Timur Bengkalis, Akibatnya 4 Orang Tewas
  •  
     
     
     
     
    Copyright © 2014-2016
    PT. Surya Cahaya Indonesia,
    All Rights Reserved