Senin, 25/11/2019
 
Kader PDIP Gugat Megawati Soekarnoputri ke Pengadilan

Martalena | Nasional
Kamis, 13/02/2020 - 17:45:20 WIB
ACEH, Riaueksis- Kader Partai PDIP, Imran Mahfudi menggugat Ketua Umum Megawati Soekarnoputri ke Pengadilan Negeri Banda Aceh. Ia menggugat hasil Konferensi Daerah V PDIP yang digelar Agustus 2019 lalu yang dinilainya tidak sah.

Gugatan telah teregister dengan nomor perkara 10/Pdt.Sus.Parpol/2020/PN-BNA.

Imran Mahfudi keberatan dengan langkah Megawati yang menunjuk Muslahuddin Daud sebagai ketua DPD PDIP Aceh. Padahal, penunjukan ketua DPD seharusnya dilakukan dengan musyawarah para kader PDIP Aceh, bukan oleh DPP.

"Namun yang terjadi, DPP partai langsung menunjuk Muslahuddin Daud sebagai Ketua DPD tanpa proses pemilihan atau musyawarah mufakat dengan peserta Konferda. Ini adalah pelanggaran terhadap anggaran dasar partai," kata Imran Mahfudi saat dikonfirmasi, Rabu (12/2).

Imran yakin DPP PDIP telah mengambil alih kewenangan yang dimiliki forum Konferda untuk menentukan ketua DPD PDIP Aceh. Imran sendiri merupakan mantan calon ketua DPD PDIP Aceh pesaing Muslahuddin Daud yang dipilih DPPP.

Imran juga mengatakan bahwa Ketua DPD PDIP Aceh yang dipilih DPP, yaitu Muslahuddin Daud, hanya diusulkan oleh satu DPC saja. Namun DPP tetap menunjuk yang bersangkutan sebagai ketua DPD.

Akibat dugaan pelanggaran terhadap anggaran dasar partai itu, kepengurusan yang dihasilkan dari Konferda menjadi tidak sah. Seluruh tindakan mewakili partai, kata Imran, juga menjadi tidak sah termasuk ketika DPD PDIP Aceh menghadiri Kongres V PDIP di Bali Agustus 2019 lalu.

Dikarenakan ada peserta kongres yang tidak sah, berakibat pada tidak sahnya pelaksanaan Kongres V PDI Perjuangan. Diketahui, dalam Kongres PDIP di Bali, Megawati Soekarnoputri terpilih kembali menjadi Ketua Umum.

"Di dalam petitum gugatan disamping meminta majelis hakim menyatakan tidak sah Konferda V PDIP Aceh, juga meminta agar dinyatakan tidak sah Kongres V PDIP," katanya.

Imran menjelaskan, sebelum melayangkan gugatan ke pengadilan negeri, pihaknya telah mengajukan permohonan penyelesaian sengketa ke Mahkamah Partai pada tanggal 8 Agustus 2019.

Namun, sampai dengan saat ini Mahkamah Partai belum mengadili permohonan tersebut. Sesuai ketentuan UU Partai Politik, kata Imran, Mahkamah Partai wajib mengadili dalam jangka waktu enam puluh hari.

"Saya lebih senang apabila menempuh upaya penyelesaian melalui Mahkamah Partai, namun karena Mahkamah Partai pun tidak tunduk pada ketentuan UU, tidak ada pilihan bagi saya selain membawa persoalan ini ke Pengadilan," katanya. **

Sumber: CNNindonesia



comments powered by Disqus


Berita Lainnya :
 
  • Setelah Natuna, Pulau Sebaru Disiapkan untuk Observasi 188 WNI awak kapal Diamond Princess dan world dream
  • 6 fakta menarik jelang laga Napoli VS Barcelona.
  • Komisi IV DPRD Bengkalis kembali Gelar Rapat Koordinasi terkait realisasi kegiatan 2020
  • Kapolda dan Wakil Gubernur Riau Hadiri Pelatihan Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Unilak.
  • Begini Cara Unilak Dukung Pemerintah Dalam Pencegahan Kebakaran Hutan Dan Lahan
  • Parisman Ikhwan Fatah Minta Pengelola Pasar Sukaramai Pakai Hati Nurani
  • Koramil 04/Mandau Hadiri Bimtek Penanggulangan Karlahut Kec. Bathin Solapan
  • Mahatir mengundurkan diri dari jabatan perdana mentri Malaysia
  • SMSI Bantu Media Siber Riau Untuk Verifikasi ke Dewan Pers
  •  
     
     
     
     
    Copyright © 2014-2016
    PT. Surya Cahaya Indonesia,
    All Rights Reserved