Senin, 25/11/2019
 
Inflasi Riau Masih Normal Pasca Idul Fitri

wan | Ekonomi
Jumat, 30/06/2017 - 10:55:06 WIB
Pekanbaru,  (riaueksis.com) - Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau memprediksi tingkat inflasi pada bulan Juni masih dalam batas toleransi, karena dampak Ramadan dan Idul Fitri 1438 Hijriah terhadap kenaikan harga bahan pangan relatif terkendali.

 "Inflasi masih terkendali dibandingkan tahun lalu," kata Kepala Bank Indonesia Provinsi Riau, Siti Astiyah dalam pernyataan pers yang diterima Antara di Pekanbaru, Kamis.

Ia mengatakan lonjakan harga bahan pangan yang biasa terjadi
jelang Lebaran di Provinsi Riau masih bisa ditekan, dibandingkan tahun
sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari upaya pemerintah pusat dan daerah
serta sejumlah BUMN seperti Bulog yang melakukan intervensi dengan
pasar murah seperti untuk komiditas minyak goreng, bawang putih, bawang merah dan beras.

Meski begitu, kenaikan tarif listrik dan transportasi jelang Lebaran tidak bisa dipungkiri akan tetap mempengaruhi tingkat inflasi pada bulan Juni.

Sementara itu, dalam kajian ekonomi regionalnya BI Riau memprediksi tekanan inflasi pada triwulan II-2017 akan meningkat dengan tendensi bias ke atas dari sasaran inflasi nasional.

Meningkatnya tekanan inflasi diperkirakan terutama berasal dari
permintaan masyarakat menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Selain itu, dampak lanjutan reformasi subsidi energi diperkirakanmasih akan terus berlanjut pascadicabutnya subsisi listrik tahap III per 1 Mei 2017.

Disisi lain, tekanan inflasi inti juga diperkirakan sedikit meningkat akibat sejalan dengan berlanjutnya realisasi belanja pemerintah pada triwulan berjalan sehingga menekan harga dari sisi permintaan.

"Secara spasial, inflasi tertinggi berasal dari Pekanbaru, diikuti oleh Dumai dan Tembilahan," ujarnya.

Bi menyatakan, perkembangan inflasi Riau secara triwulanan tercatat sebesar 1,41 persen (qtq), mengalami penurunan dibandingkan realisasi inflasi triwulanan di triwulan IV-2016 yang sebesar 2,01 persen (qtq).

Namun demikian, realisasi inflasi Riau pada triwulan I-2017 tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata historisnya dalam kurun lima tahun terakhir yang sebesar 0,63 persen (qtq).

Adapun, beberapa faktor yang berpotensi membawa inflasi triwulan
II-2017 melewati batas atas kisaran proyeksi antara lain penyesuaian  tarif listrik secara bertahap, kenaikan permintaan bahan makanan jelang Ramadan dan Idul Fitri, perbaikan harga komoditas dan upah minimum regional yang meningkatkan daya beli, potensi penyesuaian BBM dan terbatasnya BBM premium, kenaikan cukai rokok 10,54-13 persen per tahun, dan kenaikan biaya operasional pelaku usaha.

Sedangkan beberapa faktor yang berpotensi membawa inflasi melewati
batas bawah kisaran proyeksi antara lain menguatnya nilai tukar rupiah
terhadap dolar AS sehingga menekan inflasi dari impor, program peningkatan populasi sapi, terjaganya ekspetasi inflasi masyarakat, kelanjutan realisasi infrastruktur pangan dan distribusi, program ketahanan pangan pemerintah pusat dengan mendorong perluasan lahan pertanian, kebijakan impor pangan, dan monitoring harga yang semakin intensif. (wan)




comments powered by Disqus


Berita Lainnya :
 
  • Hardianto Dukung Gubri Syamsuar evaluasi BUMD
  • Danramil 05/Rupat Bersama Tim Gabungan Kembali Berjibaku Lawan Karlahut di Pulau Rupat
  • Presiden Tinjau Posko Penanganan Karhutla Riau
  • Akpasindo Kunjungi Kelompok Tani Desa Talang Mandau
  • Turki berin300 bea siswa untuk mahasiswa Indonesia.
  • Aset Tersangka kasus Jiwasraya Ditaksir Capai Rp11 Triliun
  • Dewan Pers Berikan UKW Gratis untuk 480 wartawan
  • 29 Februari, PWI akan Gelar Porwada Catur.
  • Kasdim 0303/Bengkalis Hadiri Ijab Qobul Anak Plt Bupati Bengkalis 
  •  
     
     
     
     
    Copyright © 2014-2016
    PT. Surya Cahaya Indonesia,
    All Rights Reserved